Ketika hati hamba telah tertaut dengan Rabbnya

tatkala hati hamba telah mencicipi lezatnya setetes cinta-Nya

maka bibirpun takkan bosan menyebut Nama-Nama

Matapun kan basah mengikuti getaran jiwa

yang datang dari hati berbunga-bunga

terpedam dalam lautan kedamaian, mengingat keindahan Sang Raja

Sungguh hamba cinta, karena sang hamba percaya.

Pagi ini gerimis. Kaca jendela yang begitu sejuk menarik selimut hangat dari ujung jari-jariku. Di bis begitu hangat, rasanya begitu nyaman. Kenyamanan itu memanggil kembali memori akan momen-momen kenikmatan memuji Allaah.

It’s the usual day of going to school by bus. But it’s unusual to have the first rain of the year in March. The sky is unusually darker, the sun is hiding its face by the clouds’ visit. I’m looking forward to seeing the rainbow.

And I remember the delight of the spectrum of amazement hugging my heart two years ago, and how wide the smile that came afterwards unconsciously. It was pure happiness, without any slight of sorrow. It was complete, amazing.

Why was it that wonderful?

27 Maret 2012

Hatiku penuh dengan balon-balon potensi yang mampu menaklukkan duniaku. Dan aku terus meniupnya, meniup dan memompanya hingga raksasa. Namun mereka tak kunjung pecah. Tak kunjung meledak menjadi api aksi yang menggebu. Aku menggenggam, mencengkeram, mencakar-cakar mereka, mencurahkan seluruh daya. Semuanya kembali kepadaku hampa, menumbuhkan kehampaan di hatiku yang memang sudah mulai menghampa. Rasanya sakit sekali. Dan aku pun sadar. Eksistensi perjuangan ini hanya di hatiku saja. Aku layaknya mengantuk: meraih sesuatu dengan tanganku sendiri namun ternyata hanya bermimpi.

Kantuk ini membebaniku dengan berat yang luar biasa. Punggungku membungkuk dengan waktu, penglihatanku memudar, aku melemah. Kau tahu? Aku mulai putus asa. Namun aku tahu. Aku tahu bahwa aku masih percaya. Sesedikit-sedikitnya tenaga yang kumiliki, akalku masih bekerja dan kakiku masih menopang langkah kecilku. Walaupun lambat. Dan melambat.

Aku, masih percaya. Dan aku tahu betul kenapa aku percaya dan mengapa apa yang kupercayakan pantas untuk dipercaya.

Itulah alasan besar mengapa aku masih di sini. Walaupun pikiranku berlari merajalela ke segala penjuru, walaupun pandanganku meluas hingga ke ujung alam semesta dengan segala sejarahnya, meskipun aku layaknya makhluk yang baru terlahir kembali yang terkagum-kagum dengan eksistensi dirinya sendiri, aku menapaki jalan yang benar.

Dan Allaah telah memudahkannya bagiku, sungguh Allaah telah memudahkannya bagiku. Setelah segala krisis yang telah kuperangi, meninggalkan aku yang lelah, lemah. Aku tak mau tertidur seperti mereka, yang berlari mengejar bayangan mereka sendiri. Hati-hati hampa yang mencari kesempuraan dari ketidaksempurnaan. Kenyataan yang telah diberikan kepadaku ini semestinya lebih menguatkanku.

Dan aku tak memiliki pilihan lain selain untuk berlari kepada Allaah.

Pesawat kertas yang disalin oleh seorang sahabat, telah terbang kembali kepada sang pengirim. Semuanya, sesuai rencana Allaah.

10 Juni 2011

Yaa Dila, janji Allah itu sangatlah benar. Bahwa Allah subhanah takkan membebani seorang hambanya melainkan apa-apa yang sesuai kemampuannya.
Jadi dimanapun di dunia ini, engkau akan melihat hamba-hamba yang sedang diuji imannya. Di antara mereka ada yang diuji dengan peperangan, pukulan, tampar, darah, derita fisik.
Dimanapun di muka bumi ini, di antara mereka ada yang diuji dengan nafsunya; untuk tidak mengikuti hal-hal haram yang dilakukan orang kafir di sekitarnya, karena ia berada di lingkungan dimana hampir semua yang dipandangnya adalah orang-orang kafir.
Ada pula hamba yang ujiannya cukup dengan menjauhi alkohol, dan itu sangatlah sulit baginya.
Ada pula hamba-hamba yang diuji dengan kerjanya, sekolahnya… diuji seberapa ia ingat Rabbnya.
Ada pula hamba-hamba yang diuji imannya dengan syubuhat (hal-hal yang menimbulkan keragu-raguan), diuji sejauh mana ia ingin bertahan.

Di antara mereka banyak yang gagal, dan banyak pula yang sukses.

Beberapa hamba bahkan gagal untuk ingat bahwa sesuatu buruk menimpanya itu bukan karena Allah tidak adil, namun karena Allah mengujinya, ingin menghapus dosa-dosanya.
Banyak hamba-hamba yang bahkan tak dapat menahan kata-kata yang keluar dari mulutnya, agar orang tertawa, ataupun menarik perhatian orang lain dari segi apapun, tanpa berpikir bahwa Rabbnya mendengarnya baik-baik.

Namun, betapa beruntung orang-orang yang berfikir, Dila.
Beruntung sekali mereka, mereka berkeinginan untuk berpikir, dan menjadikan keinginan mereka itu tekad yang bulat, yang berbuah dengan niat yang tulus dan amalan, untuk Rabb semesta alam, Rabb yang menciptakan apapun.

Mereka itu orang-orang produktif dengan apapun yang dimilikinya, bahkan hati. Mereka itu orang sukses.

Tadinya aku ingin mengganti namanya dengan namaku, namun sungguh, nasihat ini terasa lebih kuat ketika dipegang bersama-sama.

Pesawat kertas yang terbang dari bulan Oktober 2010.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, semoga akhi dan ukhty selalu istiqamah beribadah.

Kita berjalan di atas permukaan bumi, terpesona dengannya. Gravitasi yang begitu pasnya, bara matahari filtered by lapisan atmosfir menjadikannya cukup hangat bagi kita, semuanya begitu cocok. Sadar maupun tanpa sadar, bahkan ketika tidur pun, kita masih saja bernafas. Apabila overheat, keringat bercucuran dari kulit untuk mendinginkan suhu  tubuh. Kita tak payah mengatakan kepada otak, “Ayo keringat keluarlah, saya kepanasan!” Memang, tubuh kita benar-benar sebuah desain yang sungguh pantas.

Berkata dokter, adalah suatu zat di liver seseorang, jika ia bertambah atau berkurang 1%, ia akan langsung mati. Guru fisika Meru juga menyampaikan sedikit dari ilmunya bahwa tanpa equal pressure antara tubuh seseorang dan udara, he could be destroyed instantly. Mengapa semuanya begitu pas?

Semuanya: sel-sel sampai planet, bagaikan mengetahui apa yang masing-masing harus kerjakan untuk menyeimbangkan alam semesta. Masih ingatkah engkau bro and sis yang mungkin sudah lulus sekolah; ketika duduk di bangku kelas biologi. Ingatkah setiap kata ‘wow’ yang kita ucapkan, setiap astonishing feeling yang kita rasakan, manakala fakta natural mengagumkan? Ingatkah, tentang apa yang kita pikirkan?

Ingatkah, namun sadarkah wahai akhi dan ukhty? Sadarkah kita betapa tidak bersyukurnya kita? Terlalu banyak kita memuji ciptaan-Nya, bukan Yang Menciptakan-Nya! Kapan kita menyebut nama-Nya saat itu? Berapa kali terlintas di benak kita dari mana semuanya?

Kita lupa, kita lupa akan Yang Memelihara kita. Kita lalai.

Segala Puji bagi Allah Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Memberi, Maha Pemilik Segala Kerajaan. Tak ada satu atom pun in the universe yang tidak diketahui Allah, tak ada satu sel makhluk pun di bumi yang tidak dimiliki Allah. Apabila Allah Menghendaki, bisa saja Ia Hentikan aliran darah kita yang lalai ini. Ataupun tak Ia Izinkan nafas kita selanjutnya, sebesar apapun usaha kita untuk mendapatkannya. Kita lupa, wahai manusia. Kita lupa betapa kita butuh Allah. Alangkah menyedihkannya mereka yang bahkan tak mengimani adanya Allah, mereka dibutakan oleh kekaguman mereka sendiri. Namun begitu besar kasih sayang dan cinta Allah kepada makhluknya, bahkan masih Dia Bagikan kenikmatan atas mereka!

“Sungguh, Allah benar-benar Memiliki karunia yang Dilimpahkan kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”

(al-Mu’min; 61)

Kita habiskan berjam-jam untuk belajar ilmu dunia untuk sebuah test, dan kita sedih berlarut-larut tak mendapatkan nilai memuaskan. Untuk apa kita diciptakan, untuk mendapatkan sebuah ijazah? Manusia demi manusia kita kritik, teman demi teman kita eliminasi karena tidak lulus menjadi ‘teman sejati’. Untuk apa kita diciptakan, untuk kehidupan? Atau untuk kekayaan? Apa gunanya semua itu di hari kiamat, ketika setiap orang berdiri sendiri di tanah lapang padang Mahsyar?

Betapa banyak detik yang telah kita buang. Alangkah banyaknya kata ‘bosan’ yang sering kita ucapkan. Kita lupa lagi akhi dan ukhty. Kita lalai lagi. Kita tak lagi teringat untuk apa kita diciptakan. Kita lupa alangkah sebentarnya dunia. Bahkan kita lalai akan Yang Menciptakan kita.

Beautifully said by Ibn al-Qayyim rahimahullah tentang perjumpaan ahli surga dan Allah, ketika Allah berfirman tentang amal ibadah mereka, “Ya ahlul jannah, ingatkah dahulu ketika engkau melakukan ini dan itu?”

MasyaAllah. Perbuatan kita yang mana, ibadah kita yang mana, yang pantas untuk dipuji sedemikian indah dan tingginya oleh Allah subhana? Sungguh, apalah arti gemerlap dunia dan seisinya dibandingkan cinta Allah.

Kita bersama-sama berdoa kepada Allah, agar dilimpahkan hidayah, senantiasa mengingat Allah, senantiasa bersyukur atas segala kenikmatan dan musibah dari Allah, dan agar diperbaiki niat dan amal ibadah kita…

Walaupun diungkap dengan kesederhanaan ilmu dan kata-kata, namun menjelajahi tulisan ini rasanya seperti tertembak.

Eksistensi; betapa mengagumkannya eksistensi ide eksistensi.

The existence of the idea of existence.

Bismillah

Aku tak tahu wajah wanita anggun itu, aku tak pernah bertemu dengannya. Walaupun begitu, cerita tentangnya dari seorang sahabat yang baru saja menuntut ilmu di sebuah ma’had sejak tahun lalu, benar-benar menakjubkanku. Sungguh wanita yang cantik sosoknya. Namanya Kamelia, كامليا خير النساء.

Salah satu hal tentangnya yang takkan pernah bisa kulupakan, ialah airmatanya ketika melihat teman-teman bermaksiat — bahkan ketika mereka mendengar musik saja. Tahukah engkau tegurannya?

Jangan begitu, kasihan Rasulullah.

Aku terkejut mendengarnya, aku kaku tanpa kata. Kata-kata yang dalam ini, dilontarkan dengan sepenuh jiwanya. Sesungguhnya ini adalah sebuah renungan yang besar bagi kita.

***

Sebagai seorang yang ceria, temanku si murid baru tak luput dari bercerita tentangku ke teman-teman barunya, termasuk Kamelia. Akhirnya bertemu kembali, ia pun menyampaikan berita hangat sebagai penutup menu utama cerita-ceritanya padaku, bahwa Kamelia ingin sekali berkenalan. Emailnya tak ada, maka secarik surat pun jadi. Semangatku menggebu, aku ingin sekali berkenalan dengannya. Sungguh, hadist Rasulullah sallAllaahu’alaihi wa sallam tentang iman seseorang bergantung kepada temannya itu melayang di kepalaku. Allaah telah mengabulkan doaku, segala puji bagi Allaah. Surat sederhanaku pun kutitipkan, bersama tiga kata terakhir yang disisipkan di memori sang teman,

“Jangan kecewakan Allaah.”

Saat ini…betapa kuingin seseorang untuk mengatakannya dengan sepenuh hatinya kepadaku.

***

Enam bulan kemudian, balasan surat dari puteri kerajaan nan jauh datang.

Read More

Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Setelah posting terhenti sepuluh bulan, dan blog diprivatkan di bulan-bulan selanjutnya, Meru pun kembali sekarang. Sepuluh bulan itu merupakan waktu-waktu perubahan drastis bagi saya. Benar-benar drastis. Mungkin lingkungan tetaplah sama, namun muncul peran-peran baru, ilmu baru, ideologi-ideologi baru, yang sungguh mengejutkan. Banyak sekali yang Meru pelajari dalam waktu yang sangat singkat. Alhamdulillah, semoga diri Meru yang kini bisa mengolah ilmu-ilmu baru selama satu tahun ini menjadi manfaat yang manis.

Detik-detik sebelum memprivatkan blog Merubinsu-Moonstar ini, Meru sedang berada dalam kekecewaan yang besar terhadap diri sendiri. Salah satu hal yang tak pernah tinggalkan pikiran Meru saat itu ialah keterbatasan ilmu. Betapa sedikitnya ilmu saya, namun saya berani berbicara soal fiqh begitu gampangnya. Saya malu sudah memberikan tips-tips agama, namun kurang memperhatikan tentang hukum-hukum syar’inya. Begitu sedikitnya ilmu Meru, namun betapa soktahunya Meru. Meru dulu terlalu banyak gaya, duh. Astaghfirullah.

Maka sekarang Meru buka lembaran-lembaran baru, postingan-postingan baru. Sungguh, semakin banyak ilmu yang kita tuntut, semakin rendah hati kita semestinya. Bahkan ulama-ulama yang telah berilmu berpuluhan tahun pun mengakhiri tulisan dan lisan mereka dengan wAllahu a’lam.

Bismillah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 680 other followers