Pesawat kertas yang terbang dari bulan Oktober 2010.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh, semoga akhi dan ukhty selalu istiqamah beribadah.
Kita berjalan di atas permukaan bumi, terpesona dengannya. Gravitasi yang begitu pasnya, bara matahari filtered by lapisan atmosfir menjadikannya cukup hangat bagi kita, semuanya begitu cocok. Sadar maupun tanpa sadar, bahkan ketika tidur pun, kita masih saja bernafas. Apabila overheat, keringat bercucuran dari kulit untuk mendinginkan suhu tubuh. Kita tak payah mengatakan kepada otak, “Ayo keringat keluarlah, saya kepanasan!” Memang, tubuh kita benar-benar sebuah desain yang sungguh pantas.
Berkata dokter, adalah suatu zat di liver seseorang, jika ia bertambah atau berkurang 1%, ia akan langsung mati. Guru fisika Meru juga menyampaikan sedikit dari ilmunya bahwa tanpa equal pressure antara tubuh seseorang dan udara, he could be destroyed instantly. Mengapa semuanya begitu pas?
Semuanya: sel-sel sampai planet, bagaikan mengetahui apa yang masing-masing harus kerjakan untuk menyeimbangkan alam semesta. Masih ingatkah engkau bro and sis yang mungkin sudah lulus sekolah; ketika duduk di bangku kelas biologi. Ingatkah setiap kata ‘wow’ yang kita ucapkan, setiap astonishing feeling yang kita rasakan, manakala fakta natural mengagumkan? Ingatkah, tentang apa yang kita pikirkan?
Ingatkah, namun sadarkah wahai akhi dan ukhty? Sadarkah kita betapa tidak bersyukurnya kita? Terlalu banyak kita memuji ciptaan-Nya, bukan Yang Menciptakan-Nya! Kapan kita menyebut nama-Nya saat itu? Berapa kali terlintas di benak kita dari mana semuanya?
Kita lupa, kita lupa akan Yang Memelihara kita. Kita lalai.
Segala Puji bagi Allah Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Memberi, Maha Pemilik Segala Kerajaan. Tak ada satu atom pun in the universe yang tidak diketahui Allah, tak ada satu sel makhluk pun di bumi yang tidak dimiliki Allah. Apabila Allah Menghendaki, bisa saja Ia Hentikan aliran darah kita yang lalai ini. Ataupun tak Ia Izinkan nafas kita selanjutnya, sebesar apapun usaha kita untuk mendapatkannya. Kita lupa, wahai manusia. Kita lupa betapa kita butuh Allah. Alangkah menyedihkannya mereka yang bahkan tak mengimani adanya Allah, mereka dibutakan oleh kekaguman mereka sendiri. Namun begitu besar kasih sayang dan cinta Allah kepada makhluknya, bahkan masih Dia Bagikan kenikmatan atas mereka!
“Sungguh, Allah benar-benar Memiliki karunia yang Dilimpahkan kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”
(al-Mu’min; 61)
Kita habiskan berjam-jam untuk belajar ilmu dunia untuk sebuah test, dan kita sedih berlarut-larut tak mendapatkan nilai memuaskan. Untuk apa kita diciptakan, untuk mendapatkan sebuah ijazah? Manusia demi manusia kita kritik, teman demi teman kita eliminasi karena tidak lulus menjadi ‘teman sejati’. Untuk apa kita diciptakan, untuk kehidupan? Atau untuk kekayaan? Apa gunanya semua itu di hari kiamat, ketika setiap orang berdiri sendiri di tanah lapang padang Mahsyar?
Betapa banyak detik yang telah kita buang. Alangkah banyaknya kata ‘bosan’ yang sering kita ucapkan. Kita lupa lagi akhi dan ukhty. Kita lalai lagi. Kita tak lagi teringat untuk apa kita diciptakan. Kita lupa alangkah sebentarnya dunia. Bahkan kita lalai akan Yang Menciptakan kita.
Beautifully said by Ibn al-Qayyim rahimahullah tentang perjumpaan ahli surga dan Allah, ketika Allah berfirman tentang amal ibadah mereka, “Ya ahlul jannah, ingatkah dahulu ketika engkau melakukan ini dan itu?”
MasyaAllah. Perbuatan kita yang mana, ibadah kita yang mana, yang pantas untuk dipuji sedemikian indah dan tingginya oleh Allah subhana? Sungguh, apalah arti gemerlap dunia dan seisinya dibandingkan cinta Allah.
Kita bersama-sama berdoa kepada Allah, agar dilimpahkan hidayah, senantiasa mengingat Allah, senantiasa bersyukur atas segala kenikmatan dan musibah dari Allah, dan agar diperbaiki niat dan amal ibadah kita…
Walaupun diungkap dengan kesederhanaan ilmu dan kata-kata, namun menjelajahi tulisan ini rasanya seperti tertembak.
Eksistensi; betapa mengagumkannya eksistensi ide eksistensi.