Surat dari Kerajaan Nan Jauh
Bismillah
Aku tak tahu wajah wanita anggun itu, aku tak pernah bertemu dengannya. Walaupun begitu, cerita tentangnya dari seorang sahabat yang baru saja menuntut ilmu di sebuah ma’had sejak tahun lalu, benar-benar menakjubkanku. Sungguh wanita yang cantik sosoknya. Namanya Kamelia, كامليا خير النساء.
Salah satu hal tentangnya yang takkan pernah bisa kulupakan, ialah airmatanya ketika melihat teman-teman bermaksiat — bahkan ketika mereka mendengar musik saja. Tahukah engkau tegurannya?
Jangan begitu, kasihan Rasulullah.
Aku terkejut mendengarnya, aku kaku tanpa kata. Kata-kata yang dalam ini, dilontarkan dengan sepenuh jiwanya. Sesungguhnya ini adalah sebuah renungan yang besar bagi kita.
***
Sebagai seorang yang ceria, temanku si murid baru tak luput dari bercerita tentangku ke teman-teman barunya, termasuk Kamelia. Akhirnya bertemu kembali, ia pun menyampaikan berita hangat sebagai penutup menu utama cerita-ceritanya padaku, bahwa Kamelia ingin sekali berkenalan. Emailnya tak ada, maka secarik surat pun jadi. Semangatku menggebu, aku ingin sekali berkenalan dengannya. Sungguh, hadist Rasulullah sallAllaahu’alaihi wa sallam tentang iman seseorang bergantung kepada temannya itu melayang di kepalaku. Allaah telah mengabulkan doaku, segala puji bagi Allaah. Surat sederhanaku pun kutitipkan, bersama tiga kata terakhir yang disisipkan di memori sang teman,
“Jangan kecewakan Allaah.”
Saat ini…betapa kuingin seseorang untuk mengatakannya dengan sepenuh hatinya kepadaku.
***
Enam bulan kemudian, balasan surat dari puteri kerajaan nan jauh datang.
Alhamdulillah :)
Dan aku… benar-benar terdiam. Sungguh, surat yang kutulis itu tak lebih dari secarik kertas putih dengan tinta hitam di atasnya. Terlalu sederhana dibandingkan balasannya. Surat dari Kamelia hampir mirip sebuah kado, diamankan setiap sisinya dengan double tip. Suratnya disampul kertas bergambar kupu-kupu. Kuperhatikan seksama, kutemukan teks kecil yang menggetar hatiku,
Bertemu karna Allah dan berpisahpun karna Allah…
20-06-2011
Aku tak bisa menunggu lagi, tanganku sudah gatal ingin membuka. Isinya ada tiga lembar tulisan; secarik kertas sebagai jawaban tulisanku, sehelai tisu bertuliskan puisi, dan.. sehelai kertas A4. Aku tak tahu apa aku bisa menyebutkan sebuah poster. Yang jelas, aku shock.
Poster itu diawali dengan kata-kata “Jadilah Muslimah yang Sholihah”, lalu di bawahnya diikuti nama panjangku, ditulis dengan indahnya menggunakan pensil tipis, dan dijahit jelujur. Bagaimana bisa kubayangkan seorang Kamelia, menjahit setiap liku-liku tulisan indahnya itu. Bahkan poster itu sampai dilaminating!
Yaa Kamelia, kenapa begitu detail keindahannya? Hmm asli, aku malu.
Ia menuliskan pesan panjang di poster itu, bertinta hitam yang dikelilingi jahitan jelujur, dan dihiasi dengan pena merah untuk bayangan pada setiap hurufnya.
Walaupun seisi bumi ini manusia membenci kita
Karna kita berada di jalan Allah, mengolok-olok kita
maka sabarlah kita masih memiliki Allah, Rabb yang terus menjaga setiap hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya
Dan hanya Allah-lah yang dapat memberikan pahala bagi setiap hambaYang ku cari hanyalah ridho dari Allah, bukan pujian manusia
Akan kutempuh jalan menuju keridhoan Rabb-ku
Karna yang Haq (benar) lebih berhak untuk aku ikuti!! :)
Alhamdulillah, alhamdulillah Allaah mempertemukanku dengan seseorang yang begitu indah. Ini adalah sebuah pesan yang sangat kubutuhkan saat-saat seperti ini. Perjuanganku serasa diringankan dengan nasihat teman seperjalanan. Sesungguhnya aku bukan satu-satunya dalam jihad an-nafs ini.
Sungguh, Allaah telah merencanakan semuanya untukku, untuk meringankan beban di hatiku. Alhamdulillah.
Kamelia, ingin sekali aku menemuimu sekarang dan mengatakan bahwa, Ana uhibbuka fillah. Aku mencintaimu karena Allaah.

