Sleepwalking
Hatiku penuh dengan balon-balon potensi yang mampu menaklukkan duniaku. Dan aku terus meniupnya, meniup dan memompanya hingga raksasa. Namun mereka tak kunjung pecah. Tak kunjung meledak menjadi api aksi yang menggebu. Aku menggenggam, mencengkeram, mencakar-cakar mereka, mencurahkan seluruh daya. Semuanya kembali kepadaku hampa, menumbuhkan kehampaan di hatiku yang memang sudah mulai menghampa. Rasanya sakit sekali. Dan aku pun sadar. Eksistensi perjuangan ini hanya di hatiku saja. Aku layaknya mengantuk: meraih sesuatu dengan tanganku sendiri namun ternyata hanya bermimpi.
Kantuk ini membebaniku dengan berat yang luar biasa. Punggungku membungkuk dengan waktu, penglihatanku memudar: aku melemah. Kau tahu? Aku mulai putus asa. Namun aku tahu. Aku tahu bahwa aku masih percaya. Sesedikit-sedikitnya tenaga yang kumiliki, akalku masih bekerja dan kakiku masih menopang langkah kecilku. Walaupun lambat. Dan melambat.
Aku, masih percaya. Dan aku tahu betul kenapa aku percaya dan mengapa apa yang kupercayakan pantas untuk dipercaya.
Itulah alasan besar mengapa aku masih di sini. Walaupun pikiranku berlari merajalela ke segala penjuru, walaupun pandanganku meluas hingga ke ujung alam semesta dengan segala sejarahnya, meskipun aku layaknya seperti makhluk yang baru terlahir kembali yang terkagum-kagum dengan eksistensi dirinya sendiri, aku menapaki jalan yang benar.
Dan Allaah telah memudahkannya bagiku, sungguh Allaah telah memudahkannya bagiku. Setelah segala krisis yang telah kuperangi, meninggalkan aku yang lelah, lemah. Aku tak mau tertidur seperti mereka, yang berlari mengejar bayangan mereka sendiri. Hati-hati hampa yang mencari kesempuraan pada ketidaksempurnaan. Kenyataan yang telah diberikan kepadaku ini semestinya lebih menguatkanku.
Dan aku tak memiliki pilihan lain selain untuk berlari kepada Allaah.
